Jumat, 29 April 2011

Sanggar Sastra Jiwa



sudah waktunya bagi saya
untuk memulai tugas mengajar

bukan sebagai guru tapi sebagai
seorang teman belajar spiritual
bagi siapa saja yang berminat
belajar bersama saya.

kalyana mitta


kalyana mitta berarti
teman belajar spiritual.
yang bertujuan untuk
membantu sesama memahami
materi pelajaran.

mulai sekarang sudah saya dirikan
sanggar sastra jiwa
tempat belajar spiritual
secara online
yang mengkaji " ilmu sastra jiwa "


gerbang sudah saya buka
dan saya mempersilahkan
siapa saja yang ingin belajar
sebagai siswa
bisa terlebih dahulu membaca
panduan pendaftaran
dengan mengklik
link di bawah ini

http://www.scribd.com/doc/54315278/sanggar-sastra-jiwa

atau link yang ada di
sudut kanan blog ini.



mari bersama mengkaji
jalan kebaikan , keindahan dan kedamaian.

mudah mudahan ini ada manfaatnya.
semoga kita semua berbahagia.

salam,
edy pekalongan

Rabu, 27 April 2011

Watu Linggo sampai Candi Arjuno



menuju " Watu Linggo "
dari kota pekalongan
di perlukan waktu sekitar satu jam
perjalanan ke arah selatan.
sampai kahirnya sampai di bukit lingga
disana ada sebuah desa bernama lingga asri.

di dalam desa tersebut ada sebuah peninggalan
purbakala yaitu tumpukan batu andesit
yang menurut para pakar arkeologi
adalah sebuah situs pemujaan dari
manusia di masa lalu.

sebagian masyarakat disana menyebutnya
" Watu Linggo '

yang ada simbol pembuatan yang diperkirakan
ada empat ratus tahun sebelum masehi.
( 400 tahun sebelum yesus lahir )

adalah wajar bahwa
di jawa agama yang paling awal
salah satunya adalah agama shiwa.
yang sudah masuk ke jawa
sebelum sidharta gautama lahir.

orang orang jawa banyak
menganut ajaran shiwa.
dan pemujaan shiwa
selalu terkait dengan lingga dan yoni.

yaitu ajaran bahwa segala sesuatu di ciptakan
berpasangan .
seperti tinggi - rendah.
panas -dingin. dst.

yang tujuannya adalah menyatukan
sesuatu yang berpasangan agar menyatu
sehingga tercipta harmoni dan kekuatan.

ajaran lingga - yoni ini
mirip seperti ajaran tao di china.
yaitu yin - yang.


namun banyak orang mengartikan
lingga adalah sebuah batu lonjong seperti tugu.

padahal sebuah bukit atau gunung adalah
perwujudan lingga.

dan sebuah lembah adalah perwujudan yoni.

jika menurut sejarah
kerajaan tertua di jawa adalah taruma negara.
sekitar abad ke empat masehi .
yang bercorak agama wisnu.

maka bukit lingga di pekalongan
dengan " watu lingga "
akan merubah buku sejarah
dan menyatakan
kerajaan di daerah bukit lingga pekalongan.
lebih tua dari pada taruma negara.

berikut foto saya dan kawan kawan
dari padepokan gantharwa - jakarta.
pada hari sabtu pagi 23 april 2011
saat mengunjungi watu lingga di temani
juru kunci pak waris.




malam sebelumnya para sahabat saya ini
singgah di pekalongan dan mengadakan
silaturahmi bersama keluarga saya.

sempat pula di adakan saling bertukar cerita
dengan nara sumber salah satu simbah saya :
" mbah walari "
sesepuh padepokan ki ageng bahurekso pekalongan

berikut fotonya :



perjalanan dari bukit lingga ini
mengantarkan saya untuk kembali
merenung bahwa kita ini bukan bangsa
kemaren sore.

bersama para sahabat
menyusur bukit lingga sampai
dataran tinggi kali bening
menuju gunung batur sampai
di candi arjuna di lembah dieng.


( terlihat puncaknya meruncing seperti segitiga
adalah candi arjuno di selimuti kabut )

selama perjalanan dari bukit lingga
menuju lembah dieng
kita disuguhi pemandangan
sawah indah seperti di bali

karena saya tidak membawa kamera
maka saya carikan foto yang sepadan dengan
tempat yang saya lewati





lalu bukit di selimuti kabut
seperti foto di bawah ini



ada pula perkebunan teh



ada pula tanaman edeilweis




dan kera liar



inilah surga eksotis yang masih tersisa
di tanah jawa.
kawasan perbukitan hijau
kabupaten pekalongan
yang berbatasan dengan banjarnegara.
yang hanya di ketahui masyarakat disini

istilah penghijauan
akan di tertawakan disini...

karena sepanjang mata melihat
adalah hijau...

ini adalah week end yang menyenangkan
semoga kita semua berbahagia.

salam,
edy pekalongan

Selasa, 19 April 2011

menetralkan sihir jahat



jika anda terkena sihir jahat
atau teman anda terkena sihir jahat.

saya memberi tips
sebuah mantra budha dan penggunaannya.

walopun anda bukan pengikut agama budha
ataupun anda orang yang tidak pernah sembahyang
atau beribadah atau berdoa.

anda tetap masih bisa menggunakan tips ini.

satu hal yang harus dipahami
bahwa sesungguhnya semua mahluk
menginginkan kebahagiaan

apapun wujud dan sifat mahluk itu
mereka semua menginginkan kebahagiaan.

bacalah mantra ini dengan rasa cinta kasih
bukan untuk balas dendam .
karena ini mantra cinta kasih untuk
memusnahkan kegelapan batin.

membuat kegelapan menjadi terang bahagia.

karena orang yang terkena sihir jahat
dia dipengaruhi kekuatan kegelapan.

dia harus menghidupakan sinar suci
di dalam dirinya sendiri di sebut
cahaya suci , nur allah , sinar budha,
roh kudus , nur muhammad .

apapaun itu tips di bawah ini
bertujuan untuk itu.



kita akan menggunakan
mantra bodhisatva tangan seribu.
anda boleh menyebutnya

bodhisatva pelindung chenrezig
atau malaikat pelindung tangan seribu.

ini gambarnya :




caranya anda cetak gambar tersebut
pasang pigura di tempat yang pantas.

lalu nyalakan dupa /hio .



lalu duduklah di depannya dengan bersila
dan mengatupkan tangan di depan dada.

ucapkan salam hormat .
seperti foto di bawah ini



dan katakan :

" saya mengucap salam hormat
kepada malaikat pelindung atau bodhisatva
tangan seribu yang welas asih.

saya mohon bebaskan saya dari cengkraman
sihir jahat dan lindungilah saya .

terangilah diri saya dengan sinar suci
melalui melalui mantra
yang saya baca. "

lalu dengan tangan di denpan dada
seperti gambar di bawah ini



lalu ucapakan mantra

" om mani padme hum "

berulang ulang selama 30 menit .

sampai dupa / hio yang di bakar habis
( 30 menit )


lalu ucapkan terima kasih.

lakukan selama 40 hari.
di malam hari dan pagi hari

om mani padme hum
berarti : teratai suci di dalam diri

mudah mudahan sihir jahat yang
menyerang anda lenyap.

dan tubuhmu memiliki perisai
pelindung dari mantra
" om mani padme hum "

tentang lafal " om mani padme hum "
boleh minta sama saya versi mp3nya.

atau

jika ada pertanyaan:
silahkan hubungi email saya :
edy_pekalongan @yahoo.co.uk

semoga kita semua berbagia.

salam,
edy pekalongan

Facebook ? monggo...



mulai 19 april 2011
saya kembali menerima
dengan lapang dada
Facebook.

setelah hampir satu tahun
membuang facebook jauh jauh
untuk memotong kecanduan.

saya sekarang tidak lagi
membenci facebook dan sudah
lapang dada menerima bahwa
orang biasa pada umumnya
memakai facebook sebagai
cara berkomunikasi dan
saya tidak lagi berperang melawan
sesuatu yang tidak saya sukai.

saya anggap facebook ataupun acara gosip
sebagai kenyataan hidup yang
ada dan hidup di sekitar kita dan
tidak perlu dibenci.

akun baru saya di facebook
bukan lagi edy pekalongan
tapi berganti nama
menjadi " Angsa Wreda "
dengan email :
sabarbejoslamet@gmail.com

jadi kalo mau ketemu saya di facebook
anda tidak akan menemukan edy pekalongan
tapi anda akan berjumpa
Angsa Wreda
yang artinya " angsa tua "

mudah mudahan ini
ada gunanya untuk mempermudah
komunikasi .

salam,
edy pekalongan

Senin, 18 April 2011

Menghibur alam semesta



apa maksudnya
judul di atas ... ??

menghibur alam semesta .
karena yang butuh hiburan bukan cuma kita
tapi alam semesta juga perlu di senangkan...

inilah bentuk bakti saya
kepada Tuhan Yang Maha Esa,
dengan menyenangkan mahluk ciptaannya.

menghibur alam dengan mantra ?
betul . ini salah satu bentuk bakti yoga.
cara saya berterima kasih kepada
Tuhan yang maha Esa dan
alam semesta atas bantuannya kepada saya.

dulu saya membaca doa
untuk diri saya sendiri dan segala sesuatu yang
menyangkut kepentingan saya.

bahkan membaca mantra
untuk kepentingan saya.

sekarang saya memperoleh
kesadaran baru .




kenapa orang orang dulu
suka menyanyi dengan mantra tertentu
ditujukan kepada matahari , sungai, angkasa
hutan bahkan binatang dan alam semesta.

itu adalah cara mereka berterima kasih
atas rejeki dari alam yang telah mendukung
kehidupan manusia.

dan manusia berterima kasih bukan hanya dengan
mengucap " terima kasih "
tapi menyanyi untuk menghibur alam.

bentuk nyanyian nyanyian itu seringkali
seperti mantra baik yang cuma di lagukan
ataupun dengan musik
atau cuma berulang ulang di ucapkan
dengan sikap hormat.

yang paling banyak
adalah manusia bernyanyi untuk tuhan




bernyanyi untuk dewa ,
bernyanyi untuk guru guru manusia
bernyanyi untuk negara
bernyanyi untuk tim sepak bola.
bernyanyi untuk kekasihnya.
bernyanyi untuk menghibur dirinya sendiri.


namun sekarang ini
saya mulai bernyanyi untuk alam
setelah meditasi.



dengan cara membaca mantra
yang saya tujukan untuk menghibur alam.

saya tujukan kepada
bumi , api
air , angin
angkasa , surya
bintang , rembulan.
dan alam semesta beserta isinya.

berupa :
mantra perlindungan
mantra penyembuhan
mantra penghormatan dan syukur
mantra cinta kasih dan kedamaian


mudah mudahan
nyanyian ini akan bisa menyenangkan
alam di lingkungan saya sehingga
kejadian cuaca ekstrem , wabah penyakit
dan kekacauan akibat keseimbangan alam
yang terganggu bisa terhindarkan.

saya menutup tulisan ini
dengan doa harian saya.

semoga semua mahluk berbahagia
semoga semua mahluk
yang tinggal di udara
yang tinggal di air
yang tinggal di atas bumi
yang tinggal di dalam bumi
yang tinggal di luar bumi
yang tinggal di dalam tubuh
yang tinggal di luar tubuh
yang tampak maupun tidak tampak
yang sudah terlahir maupun akan terlahir
di sepuluh penjuru
di seluruh kerajaan alam.





semoga semua mahluk berbahagia
semoga semua mahluk berbahagia
semoga semua mahluk berbahagia

hidup rukun dalam damai dan cinta kasih
damai di dalam diri
damai di luar diri
damai di planet bumi
damai untuk semua mahluk
damai untuk umat manusia
damai untuk kita semua
damai.. damai.. damai...

om shanti shanti shanti om....

salam,
edy pekalongan

Rabu, 13 April 2011

Dari Batu menjadi Hindu



berikut ini sekelumit file
tentang Masyarakat Hindu di
bukit Linggo - kab. Pekalongan.


08 Agustus 1987
Dari batu menjadi hindu

ASAP dupa tercium semerbak
di perkampungan berbukit itu.
Penduduk keluar dari rumah beriringan,
menanjak di jalan setapak, menembus hutan-hutan pinus.

Para wanitanya bersolek, pipi yang menor dilapisi bedak.
Tercium aroma minyak wangi cap Ikan Duyung.
Remaja-remaja gunung berseliweran,
memamerkan dandanannya di siang yang sejuk.


Beberapa wanita menyunggi sesajen
yang sudah ditata di dalam baskom atau bakul.

Atau di tempat khusus sesajen,
buah dan bunga ditata meninggi meruncing.
Hari itu, 13 Mei 1987, Rabu Kliwon,
hari raya besar umat Hindu yang dinamai Galungan.


Inilah hari raya penting bagi pemeluk Hindu
yang datang sekali dalam 210 hari.
Pada hari itu, semua pemeluk Hindu
menghaturkan sesajen di
tempat-tempat suci yang dinamai pura.
Inilah hari raya yang penuh canda-ria,
berbeda dengan hari raya Hindu yang lain, Nyepi, misalnya.

Saudara, pemandangan di perbukitan hutan pinus itu
bukan di Pulau Bali. Warga desa yang menuju tempat
persembahyangan itu adalah warga Desa Lingga Asri,
Kecamatan Kajen, 30 km
selatan Kota Pekalongan -- kota pesisir utara Jawa Tengah

yang dikenal sebagai kota santri.
Inilah desa Hindu,
satu-satunya desa di luar Bali yang tiap jengkal
tanahnya meruakkan bau dupa.


Coba saja lihat,
meski pura desa di sini tidak begitu besar,
paling 25 x 25 meter,
gapuranya terbuat dari batu berukir khas Bali,
dan konon memang dibuat oleh orang Bali.

Pada dua sisi gapura diletakkan patung. Ini pun khas Bali.
Baru setelah melewati gerbang, bau Jawa tercium.
Sebuah bangunan joglo, rumah khas Jawa,
pendek memanjang, tempat sesaji ditaruh, berdiri di tengah.

Dan sebagaimana pura biasanya, terdapat pula Padmasana.
Itulah bangunan paling suci di seluruh kompleks pura itu.

"Pura ini dibangun oleh pemerintah," kata Supardi,52,
penduduk asli setempat yang menjabat
sebagai pemangku -- orang yang memimpin
persembahyangan sehari-hari di sana.

Ada ceritanya kenapa pura Lingga Asri ini
dibangun oleh pemerintah.
Penduduk setempat sudah membangun sebuah pura
yang letaknya tak jauh dari pura yang sekarang, pada 1975.
Biayanya sampai Rp 3 juta, belum termasuk tenaga sukarela.




Ternyata, lokasi pura ini menggiurkan banyak
orang karena pemandangannya sangat indah
di tengah-tengah hutan pinus milik Perhutani itu.

Pemerintah lalu mengadakan negosiasi dengan penduduk,
bagaimana kalau pura itu dipindahkan ke tempat lain.

Penduduk mau saja asal dibangun lebih
baik dan lebih luas.
Maka, berpindahlah tempat persembahyangan itu.
Semua biaya untuk pura yang baru ditanggung pemerintah.


Sejumlah tenaga dari Bali didatangkan
untuk membuat pagar, gapura, dan Padmasana itu.
Sementara itu, di lokasi pura yang lama
dibangun kolam renang dan tempat penginapan.

Dalam beberapa hal, penduduk Desa Lingg-Asri ini
merayakan hari raya Galungan seperti halnya di Bali.
Jalan-jalan di depan pura itu dihias dengan
penjor -- bambu dihias janur.

Di depan Padmasana ditaruh meja untuk sesajen.
Ada berjenis-jenis buah, selain ketupat,
lemper, dan makanan lain bikinan penduduk.
Jika dibandingkan dengan sesajen umat Hindu di Bali,
tentu saja berbeda.

Yang disini, rangkaian janurnya sangat kurang.
Hanya tampak berbagai macam bunga.
Orang-orang berhamburan memasuki pura
dan mencari tempat duduk yang baik.
Mereka berpakaian bersih dengan berbagai warna.
Para lelaki umumnya bersarung, walau
ada juga yang memakai celana panjang.
Di kepalanya ada destar seperti destar
orang Bali, dengan lipatan kurang sempurna.
Ada yang memakai blangkon dan ada
pula yang mengenakan peci.
Para wanita, terutama gadis-gadis remaja,
memakai kain dan kebaya.


Perutnya diikat dengan selendang,
persis pakaian wanita Bali. Yang unik,
seseorang membawa patung kecil
yang disebutnya sebagai patung Sunan Kalijaga dan Sunan Giri.

"Sunan Kalijaga itu bukan cuma milik umat Islam,
tetapi kami juga merasa memilikinya
karena beliau adalah perwujudan dharma,"
kata orang ini.


Dharma dalam pengertian ini
adalah kebenaran dan ajaran yang baik.
Pada hari upacara di pertengahan Mei itu,
hadir pimpinan Parisadha Hindu Dharma
Pekalongan, Sukamto.
Ia memakai sarung, baju jas putih dan blangkon, seperti
pakaian bupati keraton Jawa.

Pemangku Supardi sendiri berpakaian serba putih,
dari ikat kepala sampai celana --
jika itu terjadi pada umat Hindu di Bali
tentulah janggal. Tak ada gamelan yang ditabuh.

Sebagai pengganti supaya ada
suasana persembahyangan,
diputar kidung Jawa lewat tape recorder
berjudul Kidung Gantimulyo.

"Kami belum mampu membeli gamelan," kata Supardi.

Upacara pun dimulai.
Dupa dibakar.
Ya, seperti umumnya persembahyangan umat Hindu di mana
saja: peserta mengambil bunga, ditaruh di ujung jari,

tangan diangkat ke ubun-ubun, berdoa, selesai.
Cukup khidmat. Pada awal persembahyangan mereka
mengucapkan mantra juga,
diawali dengan Oom Swastyastu,
dan diakhiri dengan Oom Shanti, Shanti, Shanti, Oom.

Usai persembahyangan,
penduduk masih duduk dengan tekun.



Mereka mendengarkan upanisad,
khotbah keagamaan, oleh Sukamto dalam bahasa Jawa ngoko
diselang-selingi gending dandanggulo.

Ia memberi wejangan dengan memetik
beberapa ajaran dari kitab suci umat Hindu, Wedha.
Juga dijelaskannya arti hari raya Galungan,
yaitu hari kemenangan.

Selesai khotbah, acara makan bersama.
Disusul berebut sesajen.
Kemudian tersajilah pemandangan ini: sekitar 200 orang
berbaris menuruni bukit, pulang, sambil
mengunyah jajan dan buah-buahan bekas sesajen.


Mimpi Batu Dipo Taruno
Hindu di Desa Lingga Asri ini selalu
dikait-kaitkan dengan seonggok batu yang dikeramatkan orang.

Tetapi bukan batu itu yang dipuja penduduk
dan bukan di batu itu
persembahyangan Galungan tadi diselenggarakan.

Batu ini tempatnya di bukit yang lebih tinggi lagi dan
masyarakat menyebutnya Watu Lingga.
Bulat memanjang sekitar setengah meter,
tertancap pada tanah.


Pada ujung batu ini terdapat satu huruf Jawa, ha
huruf pertama dalam alfabet Jawa.

Menurut Sukamto,
pimpinan Parisadha Hindu Dharma Pekalongan itu,
batu tersebut dipasang ketika Kerajaan Kalingga
dibangun pada abad ke-6. "Menurut
cerita, di sekitar Lingga Asri inilah akan
dibangun pusat Kerajaan Kalingga,"
tutur Sukamto.


"Tapi diurungkan, karena raja mendapat wangsit
bahwa tempat ini tak cocok untuk pusat kerajaan.

Pembangunan istana dilaksanakan di tempat lain,"
kata Sukamto.

Tidak disebutkannya di mana lalu pusat kerajaan itu dibangun.
Yang masih bisa dilihat
adalah candi-candi di Dieng, sekitar 40 km dari Lingga Asri,
yang konon dibangun oleh para pekerja kerajaan.

Menurut Dipo Taruno, juru kunci Watu Lingga,
yang menancapkan batu itu tak lain dari Aji Saka,
seorang penyebar agama Hindu yang
oleh masyarakat setempat juga disebut penyebar agama Jawa.

Tokoh ini dalam legenda Jawa
disebut sebagai pencipta huruf Jawa.
Menurut versi Dipo, kini ia 78 tahun usianya,
Aji Saka itu adalah Agastya, penyebar agama
Hindu dari India.
Dipo mengaku pernah bermimpi
mendapat keterangan bahwa batu
itu sebagai pertanda
dari situlah agama Hindu disebarkan di Jawa.



"Batu ini lebih tua daripada Candi Dieng," kata Dipo.

Batu yang belum
terungkapkan dari sudut kepurbakalaan ini
tak terlalu sulit untuk dikunjungi.

Dari jalan utama yang sudah diaspal
sekitar setengah kilometer, melewati jalan
setapak, sempit dan berkelok-kelok.

Suasana sekitar mendukung "keangkeran".
Teduh, senyap, di sekelilingnya
tumbuh pohon mahoni, kopi, dan rumpun-rumpun
bambu. Gemericik air dari sungai
di bawahnya dan bunyi belalang hutan menambah
senyap suasana di situ.

Lalu tibalah saat itu, 1951, Dipo menjadi Lurah Desa
Lingga Asri. Ia menerima suara gaib, lewat mimpi.

Batu itu, kata suara entah
dari mana, mesti dipelihara.
Maka, dibuatlah rumah kecil untuk melindungi batu
dari panas dan hujan.

Cerita tentang batu itu pun segera tersebar. Mula-mula
datang satu-dua orang menaruh sesajen.


Lama kelamaan banyak orang mengunjungi
sang batu setiap malam Jumat dan malam
Selasa Kliwon.

Mereka minta berkah supaya hidupnya selamat, supaya hasil
panenannya baik.
Itu dulu. Kini permintaan pengunjung sudah lebih modern,

minta nomor buntut dan huruf-huruf Porkas.
Adakah permintaan itu dikabulkan?

Sepanjang permintaannya "bersih"
menurut Pak Dipo umumnya dikabulkan.

"Kalau permintaannya
jahat, ya, nomor-nomor itu pasti ditolak," katanya.

Ia kemudian menunjuk rumah
kuncup beratap ijuk dan seng,
yang dibangun oleh orang dari Tasikmalaya karena
permintaannya dikabulkan.

Ternyata, mimpi Pak Dipo tak berhenti disitu. Suatu
kali, masih di tahun 1951, ia mimpi lagi.
"Suara dalam mimpi mengatakan kami
disuruh kembali ke agama lama," katanya.

"Itu artinya kami harus memeluk Hindu.
Sebenarnya sebagian besar penduduk sudah Hindu,
cuma belum sadar saja dan belum
melaksanakan upacara-upacara Hindu.
Kalau saya sendiri, agama saya yang lama
adalah Kejawen."

Bekas kepala desa itu menceritakan
bahwa di desanya dulu pun
orang sudah ramai-ramai menyepi,
atau berdoa minta kepada Murbeng Dumadi (yang
memelihara jagat raya).

Mereka juga melakukan sedekahan, dan sebagainya.
Tempatnya, ya di sekitar Watu Lingga itu.
Lalu, suatu hari, datang seorang
pendeta dari Bali bernama Kemenuh.
Pendeta Hindu ini semula hanya berniat
melihat batu dari zaman Kalingga itu.
Dari pendeta itulah sebenarnya Dipo tahu
bahwa yang dijalankan oleh penduduk
sejalan dengan agama Hindu.


"Kemenuh memberitahukan
yang kami lakukan selama ini sama dengan ajaran Hindu,
cuma beberapa hal perlu disempurnakan," cerita Dipo.

Singkat cerita, Kemenuh
lalu mengajarkan tata cara agama Hindu
secara terinci, termasuk cara-cara
persembahyangan.

"Rasanya, kok pas dengan adat Jawa," ujar Dipo.
Atas saran Kemenuh pulalah

warga masyarakat itu membangun pura
tempat persembahyangan, dan
tidak lagi "menyembah" batu.

Sebenarnya, tak cuma Kemenuh yang datang. Menurut
Dipo, datang juga seorang Islam, sendirian.

Orang itu pun menyebarkan Syahadat,
mengajarkan sembahyang lima waktu.

"Semula yang mengikuti ajarannya banyak. Tapi
lama-kelamaan pengikutnya mulai berkurang,
ajarannya banyak yang bertentangan
dengan adat Jawa," katanya.

Ia memberi contoh: dihilangkannya tradisi sedekah
bagi orang mati, tidak diperbolehkannya
memperingati hari kematian seperti
nyewu, matang puluh dina,
dan ziarah ke kuburan membakar menyan.

. (Tak diceritakan oleh Dipo Taruno
apakah Pendeta Kemenuh yang orang Bali itu
mengizinkan "adat Jawa" itu.
Sebab, menurut Hindu Bali hal-hal seperti nyewu itu
pun tak ada, setidaknya tak lazim dilakukan.)


Walau begitu, sampai kini pun
pemeluk Islam tetap juga ada di Lingga Asri,
bahkan beberapa keluarga Dipo
sendiri Islam.




Dua agama ini, alhamdulillah, untunglah,
bergandengan erat tanpa
pernah menimbulkan konflik terbuka.

Dan jangan kaget, lurah yang sekarang,
Marsudi, pemeluk Islam,
dan ia adalah adik Dipo Taruno.

Kini memang Supardi-lah,
yang dinobatkan sebagai pemangku pada 1963,
tulang punggung Hindu di Lingga
Asri. Ia jugalah yang banyak mengajarkan
agama Hindu kepada anak-anak. Sebab, di
desa yang mempunyai dua sekolah itu
cuma ada satu guru agama Hindu.



Lebih dari30 tahun sudah Lingga Asri
yang berbau wangi dupa itu hidup tenteram.
Perayaan Galungan hari itu berjalan damai,
seperti dulu-dulu juga --
dan seperti
hari-hari nanti juga.

sumber file :
http://majalah.tempointeraktif.com/id/
arsip/1987/08/08/SEL/mbm.19870808.SEL31940\
.id.html


semoga ada manfaatnya.

salam,
edy pekalongan

Rabu, 06 April 2011

ajaran Sabar Bejo Slamet



apa makna ajaran jawa
sabar - bedjo - slamet ?

jika anda tertarik silahkan
membaca ebooknya disini

ebook sabar - bedjo -slamet

semoga ada manfaatnya.

salam,
edy pekalongan