Rabu, 13 April 2011

Dari Batu menjadi Hindu



berikut ini sekelumit file
tentang Masyarakat Hindu di
bukit Linggo - kab. Pekalongan.


08 Agustus 1987
Dari batu menjadi hindu

ASAP dupa tercium semerbak
di perkampungan berbukit itu.
Penduduk keluar dari rumah beriringan,
menanjak di jalan setapak, menembus hutan-hutan pinus.

Para wanitanya bersolek, pipi yang menor dilapisi bedak.
Tercium aroma minyak wangi cap Ikan Duyung.
Remaja-remaja gunung berseliweran,
memamerkan dandanannya di siang yang sejuk.


Beberapa wanita menyunggi sesajen
yang sudah ditata di dalam baskom atau bakul.

Atau di tempat khusus sesajen,
buah dan bunga ditata meninggi meruncing.
Hari itu, 13 Mei 1987, Rabu Kliwon,
hari raya besar umat Hindu yang dinamai Galungan.


Inilah hari raya penting bagi pemeluk Hindu
yang datang sekali dalam 210 hari.
Pada hari itu, semua pemeluk Hindu
menghaturkan sesajen di
tempat-tempat suci yang dinamai pura.
Inilah hari raya yang penuh canda-ria,
berbeda dengan hari raya Hindu yang lain, Nyepi, misalnya.

Saudara, pemandangan di perbukitan hutan pinus itu
bukan di Pulau Bali. Warga desa yang menuju tempat
persembahyangan itu adalah warga Desa Lingga Asri,
Kecamatan Kajen, 30 km
selatan Kota Pekalongan -- kota pesisir utara Jawa Tengah

yang dikenal sebagai kota santri.
Inilah desa Hindu,
satu-satunya desa di luar Bali yang tiap jengkal
tanahnya meruakkan bau dupa.


Coba saja lihat,
meski pura desa di sini tidak begitu besar,
paling 25 x 25 meter,
gapuranya terbuat dari batu berukir khas Bali,
dan konon memang dibuat oleh orang Bali.

Pada dua sisi gapura diletakkan patung. Ini pun khas Bali.
Baru setelah melewati gerbang, bau Jawa tercium.
Sebuah bangunan joglo, rumah khas Jawa,
pendek memanjang, tempat sesaji ditaruh, berdiri di tengah.

Dan sebagaimana pura biasanya, terdapat pula Padmasana.
Itulah bangunan paling suci di seluruh kompleks pura itu.

"Pura ini dibangun oleh pemerintah," kata Supardi,52,
penduduk asli setempat yang menjabat
sebagai pemangku -- orang yang memimpin
persembahyangan sehari-hari di sana.

Ada ceritanya kenapa pura Lingga Asri ini
dibangun oleh pemerintah.
Penduduk setempat sudah membangun sebuah pura
yang letaknya tak jauh dari pura yang sekarang, pada 1975.
Biayanya sampai Rp 3 juta, belum termasuk tenaga sukarela.




Ternyata, lokasi pura ini menggiurkan banyak
orang karena pemandangannya sangat indah
di tengah-tengah hutan pinus milik Perhutani itu.

Pemerintah lalu mengadakan negosiasi dengan penduduk,
bagaimana kalau pura itu dipindahkan ke tempat lain.

Penduduk mau saja asal dibangun lebih
baik dan lebih luas.
Maka, berpindahlah tempat persembahyangan itu.
Semua biaya untuk pura yang baru ditanggung pemerintah.


Sejumlah tenaga dari Bali didatangkan
untuk membuat pagar, gapura, dan Padmasana itu.
Sementara itu, di lokasi pura yang lama
dibangun kolam renang dan tempat penginapan.

Dalam beberapa hal, penduduk Desa Lingg-Asri ini
merayakan hari raya Galungan seperti halnya di Bali.
Jalan-jalan di depan pura itu dihias dengan
penjor -- bambu dihias janur.

Di depan Padmasana ditaruh meja untuk sesajen.
Ada berjenis-jenis buah, selain ketupat,
lemper, dan makanan lain bikinan penduduk.
Jika dibandingkan dengan sesajen umat Hindu di Bali,
tentu saja berbeda.

Yang disini, rangkaian janurnya sangat kurang.
Hanya tampak berbagai macam bunga.
Orang-orang berhamburan memasuki pura
dan mencari tempat duduk yang baik.
Mereka berpakaian bersih dengan berbagai warna.
Para lelaki umumnya bersarung, walau
ada juga yang memakai celana panjang.
Di kepalanya ada destar seperti destar
orang Bali, dengan lipatan kurang sempurna.
Ada yang memakai blangkon dan ada
pula yang mengenakan peci.
Para wanita, terutama gadis-gadis remaja,
memakai kain dan kebaya.


Perutnya diikat dengan selendang,
persis pakaian wanita Bali. Yang unik,
seseorang membawa patung kecil
yang disebutnya sebagai patung Sunan Kalijaga dan Sunan Giri.

"Sunan Kalijaga itu bukan cuma milik umat Islam,
tetapi kami juga merasa memilikinya
karena beliau adalah perwujudan dharma,"
kata orang ini.


Dharma dalam pengertian ini
adalah kebenaran dan ajaran yang baik.
Pada hari upacara di pertengahan Mei itu,
hadir pimpinan Parisadha Hindu Dharma
Pekalongan, Sukamto.
Ia memakai sarung, baju jas putih dan blangkon, seperti
pakaian bupati keraton Jawa.

Pemangku Supardi sendiri berpakaian serba putih,
dari ikat kepala sampai celana --
jika itu terjadi pada umat Hindu di Bali
tentulah janggal. Tak ada gamelan yang ditabuh.

Sebagai pengganti supaya ada
suasana persembahyangan,
diputar kidung Jawa lewat tape recorder
berjudul Kidung Gantimulyo.

"Kami belum mampu membeli gamelan," kata Supardi.

Upacara pun dimulai.
Dupa dibakar.
Ya, seperti umumnya persembahyangan umat Hindu di mana
saja: peserta mengambil bunga, ditaruh di ujung jari,

tangan diangkat ke ubun-ubun, berdoa, selesai.
Cukup khidmat. Pada awal persembahyangan mereka
mengucapkan mantra juga,
diawali dengan Oom Swastyastu,
dan diakhiri dengan Oom Shanti, Shanti, Shanti, Oom.

Usai persembahyangan,
penduduk masih duduk dengan tekun.



Mereka mendengarkan upanisad,
khotbah keagamaan, oleh Sukamto dalam bahasa Jawa ngoko
diselang-selingi gending dandanggulo.

Ia memberi wejangan dengan memetik
beberapa ajaran dari kitab suci umat Hindu, Wedha.
Juga dijelaskannya arti hari raya Galungan,
yaitu hari kemenangan.

Selesai khotbah, acara makan bersama.
Disusul berebut sesajen.
Kemudian tersajilah pemandangan ini: sekitar 200 orang
berbaris menuruni bukit, pulang, sambil
mengunyah jajan dan buah-buahan bekas sesajen.


Mimpi Batu Dipo Taruno
Hindu di Desa Lingga Asri ini selalu
dikait-kaitkan dengan seonggok batu yang dikeramatkan orang.

Tetapi bukan batu itu yang dipuja penduduk
dan bukan di batu itu
persembahyangan Galungan tadi diselenggarakan.

Batu ini tempatnya di bukit yang lebih tinggi lagi dan
masyarakat menyebutnya Watu Lingga.
Bulat memanjang sekitar setengah meter,
tertancap pada tanah.


Pada ujung batu ini terdapat satu huruf Jawa, ha
huruf pertama dalam alfabet Jawa.

Menurut Sukamto,
pimpinan Parisadha Hindu Dharma Pekalongan itu,
batu tersebut dipasang ketika Kerajaan Kalingga
dibangun pada abad ke-6. "Menurut
cerita, di sekitar Lingga Asri inilah akan
dibangun pusat Kerajaan Kalingga,"
tutur Sukamto.


"Tapi diurungkan, karena raja mendapat wangsit
bahwa tempat ini tak cocok untuk pusat kerajaan.

Pembangunan istana dilaksanakan di tempat lain,"
kata Sukamto.

Tidak disebutkannya di mana lalu pusat kerajaan itu dibangun.
Yang masih bisa dilihat
adalah candi-candi di Dieng, sekitar 40 km dari Lingga Asri,
yang konon dibangun oleh para pekerja kerajaan.

Menurut Dipo Taruno, juru kunci Watu Lingga,
yang menancapkan batu itu tak lain dari Aji Saka,
seorang penyebar agama Hindu yang
oleh masyarakat setempat juga disebut penyebar agama Jawa.

Tokoh ini dalam legenda Jawa
disebut sebagai pencipta huruf Jawa.
Menurut versi Dipo, kini ia 78 tahun usianya,
Aji Saka itu adalah Agastya, penyebar agama
Hindu dari India.
Dipo mengaku pernah bermimpi
mendapat keterangan bahwa batu
itu sebagai pertanda
dari situlah agama Hindu disebarkan di Jawa.



"Batu ini lebih tua daripada Candi Dieng," kata Dipo.

Batu yang belum
terungkapkan dari sudut kepurbakalaan ini
tak terlalu sulit untuk dikunjungi.

Dari jalan utama yang sudah diaspal
sekitar setengah kilometer, melewati jalan
setapak, sempit dan berkelok-kelok.

Suasana sekitar mendukung "keangkeran".
Teduh, senyap, di sekelilingnya
tumbuh pohon mahoni, kopi, dan rumpun-rumpun
bambu. Gemericik air dari sungai
di bawahnya dan bunyi belalang hutan menambah
senyap suasana di situ.

Lalu tibalah saat itu, 1951, Dipo menjadi Lurah Desa
Lingga Asri. Ia menerima suara gaib, lewat mimpi.

Batu itu, kata suara entah
dari mana, mesti dipelihara.
Maka, dibuatlah rumah kecil untuk melindungi batu
dari panas dan hujan.

Cerita tentang batu itu pun segera tersebar. Mula-mula
datang satu-dua orang menaruh sesajen.


Lama kelamaan banyak orang mengunjungi
sang batu setiap malam Jumat dan malam
Selasa Kliwon.

Mereka minta berkah supaya hidupnya selamat, supaya hasil
panenannya baik.
Itu dulu. Kini permintaan pengunjung sudah lebih modern,

minta nomor buntut dan huruf-huruf Porkas.
Adakah permintaan itu dikabulkan?

Sepanjang permintaannya "bersih"
menurut Pak Dipo umumnya dikabulkan.

"Kalau permintaannya
jahat, ya, nomor-nomor itu pasti ditolak," katanya.

Ia kemudian menunjuk rumah
kuncup beratap ijuk dan seng,
yang dibangun oleh orang dari Tasikmalaya karena
permintaannya dikabulkan.

Ternyata, mimpi Pak Dipo tak berhenti disitu. Suatu
kali, masih di tahun 1951, ia mimpi lagi.
"Suara dalam mimpi mengatakan kami
disuruh kembali ke agama lama," katanya.

"Itu artinya kami harus memeluk Hindu.
Sebenarnya sebagian besar penduduk sudah Hindu,
cuma belum sadar saja dan belum
melaksanakan upacara-upacara Hindu.
Kalau saya sendiri, agama saya yang lama
adalah Kejawen."

Bekas kepala desa itu menceritakan
bahwa di desanya dulu pun
orang sudah ramai-ramai menyepi,
atau berdoa minta kepada Murbeng Dumadi (yang
memelihara jagat raya).

Mereka juga melakukan sedekahan, dan sebagainya.
Tempatnya, ya di sekitar Watu Lingga itu.
Lalu, suatu hari, datang seorang
pendeta dari Bali bernama Kemenuh.
Pendeta Hindu ini semula hanya berniat
melihat batu dari zaman Kalingga itu.
Dari pendeta itulah sebenarnya Dipo tahu
bahwa yang dijalankan oleh penduduk
sejalan dengan agama Hindu.


"Kemenuh memberitahukan
yang kami lakukan selama ini sama dengan ajaran Hindu,
cuma beberapa hal perlu disempurnakan," cerita Dipo.

Singkat cerita, Kemenuh
lalu mengajarkan tata cara agama Hindu
secara terinci, termasuk cara-cara
persembahyangan.

"Rasanya, kok pas dengan adat Jawa," ujar Dipo.
Atas saran Kemenuh pulalah

warga masyarakat itu membangun pura
tempat persembahyangan, dan
tidak lagi "menyembah" batu.

Sebenarnya, tak cuma Kemenuh yang datang. Menurut
Dipo, datang juga seorang Islam, sendirian.

Orang itu pun menyebarkan Syahadat,
mengajarkan sembahyang lima waktu.

"Semula yang mengikuti ajarannya banyak. Tapi
lama-kelamaan pengikutnya mulai berkurang,
ajarannya banyak yang bertentangan
dengan adat Jawa," katanya.

Ia memberi contoh: dihilangkannya tradisi sedekah
bagi orang mati, tidak diperbolehkannya
memperingati hari kematian seperti
nyewu, matang puluh dina,
dan ziarah ke kuburan membakar menyan.

. (Tak diceritakan oleh Dipo Taruno
apakah Pendeta Kemenuh yang orang Bali itu
mengizinkan "adat Jawa" itu.
Sebab, menurut Hindu Bali hal-hal seperti nyewu itu
pun tak ada, setidaknya tak lazim dilakukan.)


Walau begitu, sampai kini pun
pemeluk Islam tetap juga ada di Lingga Asri,
bahkan beberapa keluarga Dipo
sendiri Islam.




Dua agama ini, alhamdulillah, untunglah,
bergandengan erat tanpa
pernah menimbulkan konflik terbuka.

Dan jangan kaget, lurah yang sekarang,
Marsudi, pemeluk Islam,
dan ia adalah adik Dipo Taruno.

Kini memang Supardi-lah,
yang dinobatkan sebagai pemangku pada 1963,
tulang punggung Hindu di Lingga
Asri. Ia jugalah yang banyak mengajarkan
agama Hindu kepada anak-anak. Sebab, di
desa yang mempunyai dua sekolah itu
cuma ada satu guru agama Hindu.



Lebih dari30 tahun sudah Lingga Asri
yang berbau wangi dupa itu hidup tenteram.
Perayaan Galungan hari itu berjalan damai,
seperti dulu-dulu juga --
dan seperti
hari-hari nanti juga.

sumber file :
http://majalah.tempointeraktif.com/id/
arsip/1987/08/08/SEL/mbm.19870808.SEL31940\
.id.html


semoga ada manfaatnya.

salam,
edy pekalongan

1 komentar:

Anonim mengatakan...

indah sekali.. subhanallah..

achmad- Ubud