Senin, 26 Mei 2014

membaca Kala

 
 
amit amit ngaliman salam
mohon ijin berbagi
# Membaca KALA
*
*
saya teringat istilah KALA . sang waktu di bumi , di jawa disebut Kala. simbolnya ada setiap kita mau memasuki candi budha . juga di keraton/ istana . biasanya ada di atas pintu masuk. tanda itu artinya kita hidup dibumi itu di bingkai oleh waktu. sedangkan waktu sendiri bersifat netral , tidak memihak.
*
*
sekarang ukiran relief kala dibaca sebagai simbol wajah menakutkan seperti setan , tanpa makna, karena mungkin saja yang melihat relief tersebut sudah putus dengan sandi bahasa / lambang kuno . tidak masalah.
*
*
bagi saja mitos / cerita wayang tentang Bathara Kala , disalah artikan. tidak lagi dibaca sebagai putaran waktu , yang membatasi usia manusia malah dibaca sebagai setan dan sesuatu yang gaib. sekali lagi tidak masalah.
*
*
saking pentingnya prinsip waktu ini , dalam budaya jawa posisi relief Kala di letakkan sering kali di pintu masuk , di tengah atas palang pintunya . sehingga ketika orang masuk pintu tersebut. seakan masuk sebuah mulut yg melambangkan ruang dan waktu.
*
kerumitan makna ini yang tidak dipahami oleh orang banyak orang, karena tidak mau belajar ataupun sudah cuek.
*
*
dalam budaya jawa. orang orang yang berpotensi tertinggal, tertindas, dikorbankan oleh putaran waktu , roda jaman masa kini . dilambangkan dalam cerita sebagai calon santapan Bathara Kala. maka dia perlu di ruwat oleh dalang atau sang sutradara. agar selamat mengaruhi nasib kehidupan.
*
*
artinya orang orang tersebut perlu di bantu untuk di ruwat atau diubah nasibnya oleh Dalang ruwat yaitu simbol orang yang berkuasa menjadi penentu alur jaman. dalam hal ini penguasa wilayahnya / pemimpinnya yang kuasa mengambil keputusan tentang perubahan maju mundur nasib rakyatnya.
*
*
dalam skala dunia, ada negara negara yang berpotensi lenyap di telan Bathara Kala atau penguasa jaman (globalisasi di bumi ) . dan itu perlu di ruwat oleh sang Dalang. bahkan utang Luar Negeri pun dibatasi waktu , atau akan berbunga dan menjerat menyebabkan kesengsaraan rakyat di negara tersebut.
*
siapakah sang Dalang Ruwat tingkat dunia ?
*
sang Dalang itu adalah para pemegang kunci peradaban dunia. Orang orang yang menjadi sutradara / arsitek yang menjalankan roda ekonomi dunia, roda politik dunia, roda kebudayaan dunia. merekalah yang mampu menyelamatkan nasib negara negara yang akan menjadi santapan Bathara Kala.
*
*
jadi budaya ruwatan dan dalang ruwat , itu harus di baca ulang. bukan sekedar tahapan upacara. tapi sesungguhnya itu sindiran luar biasa kepada pegelaran jaman dan para penguasa jaman.
*
*
bertanyalah kepada orang orang yang punya ilmu rajah Kala Cakra , artinya orang yang dibekali pengetahuan dan ketrampilan membaca roda waktu . membaca perubahan jaman dan peradaban .
*
sehingga dia akan memberi tahu kapan sebuah peradaban maju atau mundur atau tanda tandanya akan mengalami kehancuran dan ain sebagainya. saya menterjemahkan makna logis atau nalar dari Aji Rajah Kalacakra bukan secara nilai magis atau sihirnya. karena saya bukan penyihir.
*
*
sungguh , bagi saya Indonesia saat ini adalah calon tumbal Bathara Kala. hanya saja nasib membuatnya menjadi seperti Buah simalakama. dimakan semua Bathara kala mati. tidak dimakan Bathara kala kelaparan. entahlah.
*
*
dalam cerita kuno , untuk mengurangi penderitaan hidup di bumi akibat penindasan Bathara Kala maka orang belajar kepada begawan Gotama tentang hukum sebab akibat dan menghentikan siklus penderitaan batin. supaya memiliki pandangan terang , maka perlu penerang jalan yaitu ilmu pengetahuan.
*
*
di jawa cahaya penerang di sebut Damar , bisa berbentuk obor, lampu minyak, lilin, lampu listrik , cahaya matahari , cahaya bulan, senter itu semua disebut Damar.
*
*
kata " Damar " dalam bahasa jawa ini mirip mirip fungsinya dengan kata bahasa sansekerta " Dharma ". atau kata bahasa pali " Dhamma " . saya tidak berani mengatakan sama tapi mirip kegunaannya untuk menerangi pandangan manusia.
*
*
kondisi gelap atau dalam bahasa jawa " Petheng " itu adalah sebuah situasi dimana cahaya tidak sampe karena terhalang sesuatu . jadi bukan masalah kurang sinar / cahayanya , tapi cukuplah perlu disingkirkan penghalangnya , maka secara otomatis kondisi gelap atau " Petheng" itu lenyap dengan sendirinya.
*
kecuali situasi sengaja di buat selalu gelap. agar penjual senter dan baterai tetap laku dan untung. itu laen lagi ceritanya.
*
*
semoga menjadi sia sia pada waktunya. terima kasih
*
*
salam,
edy pekalongan
 
 

Selasa, 20 Mei 2014

perjalanan waisak 2014 sampe ayat kursi

saya sempat hadir di candi borobudur pada saat perayaan waisak 2014. saya ikut juga jalan kaki dari candi mendut menuju borobudur. kesan saya , ini hanya pesta dan sarana pamer sekte sekte budha di indonesia. tapi lupa pada budaya jawanya. malah orang jawa yg disuruh mengotong persembahan seperti kuli, tidak apa apa. bebas saja. di agama manapun ternyata sama. orang jawa hanya jadi konsumen budaya luar entah china, thailand, india, arab, jepang. menunjukkan sedikit ciri jawanya pasti akan di curigai. sekali lagi tidak apa apa. memang orang jawa sudah hilang taksu jawanya.



saya sempatkan merokok , sengaja memberi pesan merokok tidak membunuhmu. tapi kebencian, keserakahan, kebodohan itu bisa membunuh bangsa indonesia bahkan umat manusia di bumi.






saya lihat ini hanya pesta untuk  pejabat dan ajang pariwisata. tidak apa apa. menjelang detik detik waisak. satu jam sebelumnya antrean orang membawa peralatan foto mengular. dan berisik. saya memilih duduk agak jauh di bawah sinar bulan. tidak naik ke pelataran candi . menyalakan dipa dan lilin.  duduk bersila. sampe dupa habis. menjelang detik-2 waisak dan acara lampion. saya jalan kaki  keluar dari candi borobudur kembali ke penginapan yg tidak jauh dari lokasi candi.

esoknya saya kembali ke jogja. untuk mencari buku buku bekas.
dan menyempatkan minum kopi di gerai kopi luwak dengan pakaian ciri jawa . beberapa orang mungkin merasa aneh, di jogja sendiri, kalo ada orang berpakaian adat jalan di mall dan mampir kafe masih di anggap tidak wajar. ya tidak apa apa. bebas saja.




 tujuan saya hanya ingin mengatakan tanpa bicara kalo ngopi di kafe mahal pun, bisa di lakukan orang desa dan itu bukan ciri orang modern. biasa saja. dan tidak istimewa.

saya mendapat satu buku bagus, karya Y.B. Mangun wijaya, judulnya " wastu citra " ini buku tentang arsitektur dan makna / falsafahnya. di buku ini saya banyak tahu tentang makna bangunan adat jawa dan bali.
sempat saya foto buku ini di kasur tempat say amenginap di hotel.




 saya ingat hidangan makan siang saya ala eropa di  kafe di dalam benteng belanda di jalan malioboro cukup enak. saya suka salad buahnya.


perjalanan saya pulang acara waisak membeli sebuah lukisan bambu bertulis kaligrafi arab " ayat kursi " dari kakek tua usia 81 tahun dari borobudur yang membuatnya sendiri. dia bercerita jaman jepang sampe hilangnya wibawa orang jawa. hal itu di ceritakan di dalam bus jurusan borobudur jogja. sebelum saya mampir jogja mencari buku. dan oleh oleh kaligrafi bambu itu saya berikan sahabat saya di semarang yang lama tak jumpa. mereka berdua yaitu mas yono dan mbak nina adalah sahabat saya sejak 2008. kita sempat makan bersama di hari minggu kemaren di kedai dekat simpang lima - semarang .



pulang ke rumah hari senin. dan baru bisa menulis postingan blog hari selasa ini.
pesan yang saya dapat " jangan membawa banyak beban di perjalanan, supaya langkah ringan. kalo dapet sesuatu barang  , di rasa ada yang lebih butuh. berikan saja "

salam.
edy pekalongan