Senin, 24 Mei 2010

Cerita membalas email



ijinkanlah sahaya sharing disini.

sahaya baru saja membalas email
dari seorang mahasiswi
sekolah kesehatan yang sedang
mengerjakan skripsi dengan tema
terapi mengambar. beliau berasal
dari mataram. pulau lombok. nusa tenggara barat.

ini balasan yang ketiga atas pertanyaannya.
seputar tehnik dll.

lalu dia mengucapkan terima kasih dan
semoga saya tidak bosan
membalas email.

saya sempatkan menuliskan filosofi " edy pekalongan "
di balik terapi marah dengan menggambar
( karya tahun 2007 )
untuk beliau mahasiswi di mataram.lombok.



sehingga sebagai mahasiswa tidak melulu
memahami suatu produk jadi dari kulitnya.
tapi juga memahami awal penciptaan produk
dan filosofi yang mendasarinya dari figur/tokoh
yang meramu penciptaan produk jadi tersebut.


yang sampai dengan saat ini ebook
terapi marah dengan menggambar
di web www.scribd.com
sudah di baca 2.104 ( duaribu seratus empat orang )


dan total keseluruhan bakti yoga saya berupa
ebook gratis sejak 2008 . sampai dengan
saat ini sudah di baca : 40.154
( empat puluh ribu seratus lima puluh empat orang )

saya sampaikan kepada mahasiswi tadi,
agar tidak usah terlalu berterima kasih,
biasa saja.

bagi saya

ilmu adalah titipan.
raga, pikiran, perasaan,jiwa saya adalah titipan
nama sahaya adalah titipan
keluarga, teman, duit ,buku, fasilitas adalah titipan.

semua adalah milik Sang Maha Kuasa.
dan perwujutan dari sifat sifat Nya.

hanya hak guna pakai dalam peran kehidupan.

jadi berbagi titipan adalah biasa.

tulisan ini di tulis saat saya
sedang "eling " kepada Sang Sumber.
kemudian sahaya kembali " linglung " atau lali atau lupa.
dan enak serta menikmati peran "edy pekalongan "

begitulah sekumit cerita membalas email dari
mahasiswi yang sedang menyelesaikan skripsi
tentang terapi menggambar yang kebetulan
berani bertanya ke email saya setelah mencari ke Google.

aku yang mengaku aku
butuh pengakuan.
karena sedang lupa.

" sak bedjo bedjane wong lali
taksih bedjo wong eling lan waspodo "

saya jadi kagum dengan pembuat
pepatah jawa diatas.
pinter, cerdas sekaligus praktisi spiritual.

hanya kok kurang marketing
jadi ajaran di atas kurang laku.

dan yang bodoh adalah saya.
mana ada pertapa yang pinter marketing.
yang pinter menjual adalah pedagang.

salam,
edy pekalongan

Tidak ada komentar: