Rabu, 09 Juni 2010

Bahasa Cinta



akhir bulan mei 2010
saya terinspirasi untuk menafsirkan
makna setiap bait kitab trisula ,

Cendikiawan barat memiliki
ilmu semiotika dalam menafsirkan simbol simbol.

saya memiliki tehnik penalaran pribadi
untuk menerjemahkan simbol simbol
yang saya beri nama ajian sastra jiwa.

salah satu bait yang
saya tafsirkan dengan ajian sastrajiwa
hasilnya di bawah ini:


Bahasa cinta

Bahasa orang yang saling jatuh cinta
adalah
tanpa perlu bersuara tapi
dari pandangan mata
dan anggukan kepala
pesan yang ingin di sampaikan
sudah dapat diterima dengan baik
oleh kekasihnya.

Bahasa cinta yang lebih luas
digunakan oleh pecinta spiritual

untuk berkomunikasi dengan alam semesta.


Oleh karena itu pelajarilah bahasa cinta.

( Kitab Trisula , Bait 18 )


Kitab Trisula , Bait 18
berbicara tentang bahasa cinta
yang di kelompokkan menjadi dua.

Bahasa cinta yang pertama
adalah bahasa cinta ragawi
yaitu bahasa cinta sepasang kekasih.

Dalam bait ini disampaikan
tentang bahasa tatapan mata dan
bahasa tubuh yang diwakili anggukan kepala.
Mata adalah jendela hati.
Sinar mata memancarkan kondisi perasaan seseorang.

Seorang kekasih bisa mengetahui
kondisi suasana hati kekasihnya
hanya dengan menatap matanya
dan memperhatikan bahasa tubuh.

Inilah yang dimaksud dengan kontak batin
karena dua hati sudah menyatukan diri.
Sehingga secara alamiah
telepati sudah terjadi antara sepasang kekasih.

Dalam bait ini menggambarkan
sepasang kekasih yang betul betul menyatukan hati
dan jiwanya sebagai teman hidup atau suami istri,

diantara mereka berdua muncul
kemampuan telepati untuk
berkomunikasi hanya melalui tatapan mata
dan bahasa isyarat tubuh.

Senada dengan itu
dalam bahasa jawa halus suami atau istri
di sebut “garwo “ yang berarti "sigaring nyowo"
atau dalam bahasa indonesia berarti " belahan jiwa ".





Seperti halnya sepasang kekasih yang sedang bercinta
dalam rangka mengekpresikan kebutuhan sexnya
ataupun untuk membuat keturunan,

mereka secara alami lebih sering
menggunakan bahasa tubuh
melalui gerakan entah itu
usapan, ciuman, pelukan, dorongan,
gigitan ,ekspresi wajah tertentu dan hembusan nafas.


Kemudian suara yang dikeluarkan
dari pita suara mereka kecenderungan
mirip suara ekpresi binatang
yaitu mendesis seperti ular,
berisik seperti monyet di hutan,
melengking seperti suara serigala
dan seterusnya
silahkan anda eksplorasi sendiri.

Itulah bahasa cinta tingkatan pertama
yang menurut saya adalah komunikasi purba
yang dipahami oleh laki laki dewasa
dan perempuan dewasa
yang tinggal dari hutan rimba amazon
sampai kota Berlin di Jerman.




selanjutnya.
Jika anda melihat foto foto di media massa
tentang seorang tokoh
yang mencintai rakyatnya atau
seorang tokoh yang mencintai orang orang lemah.
Anda bisa menangkap getaran kasih sayang melalui mata
dan bahasa tubuh tokoh tersebut yang tertangkap melalui foto.

Bahasa cinta yang kedua adalah.
Bahasa yang lebih luas cakupan wilayahnya,
tidak terbatas kepada sesama manusia,
namun kepada segala sesuatu yang ada di alam semesta.

Pada bait ini , disebutkan bahasa pergaualan
yang digunakan pecinta spiritual.

pecinta spiritual adalah orang orang
yang terdiri atas laki laki dan perempuan,
tua ataupun muda yang sudah mengembangkan cinta kasih
dalam rangka mengolah dirinya untuk menemukan jatidiri.



Mereka tersebar diberbagai agama dan kepercayaan
serta budaya diseluruh penjuru bumi.

Di dalam budaya jawa yang saya pelajari.
Orang orang yang menghaluskan budi pekertinya
menganggap tanaman adalah sodaranya.
Binatang adalah sodaranya.

Ketika menyebut angin mereka mengatakan sodara angin,
begitupula dengan bumi, air, api serta unsur alam yang lain
dianggap sebagai sodara manusia.

Bahasa cinta yang kedua ini dalam budaya jawa
harus dilatih melalui mengenal alam sampai
akhirnya mencapai tahapan bergaul dengan alam.

Pertama di awali dengan mengenal unsur alam,
dilanjutkan dengan berkomunikasi dengan unsur alam,
mendengarkan unsur alam, bersahabat dengan unsur alam,
lalu bekerjasama dengan unsur alam.

Kemudian tahapan yang lebih tinggi lagi
dalam bergaul dengan unsur alam harus
menggunakan tata krama atau sopan santun.







Dalam tahapan ini seseorang harus
mengerti "tepo sliro" yaitu toleransi terhadap alam,
kemudian mengerti "nanding saliro" atau
hidup bersama dengan alam
termasuk didalamnya bekerja
menggunakan sumber daya alam

dan yang terakhir adalah
"mulat sariro" atau introspeksi diri
dalam hubungan dengan alam
sehingga tidak sampai terjadi bencana alam.

Ada kalanya manusia baru melakukan "mulat sariro"
atau instrospeksi diri setelah terjadi bencana alam.
Ini berarti tanda tanda alam tidak lagi dihiraukan
sehingga alam berunjuk rasa.

Kegagalan membaca tanda tanda alam
adalah bentuk ketidakmampuan manusia
dalam membaca bahasa cinta yang disampaikan oleh alam.

pecinta spiritual yang memahami
bahasa cinta tingkat kedua ini
akan mampu menafsirkan bahasa yang disampaikan alam
melalui perilaku unsur alam diantaranya
bumi, air, angin, pohon bahkan bintang langka,
atau unsur di luar bumi seperti matahari,
rembulan dan planet planet.

Oleh karena itu didalam budaya jawa,
wilayah seperti mata air, hutan, gunung memiliki juru kunci
yang ditugaskan oleh pihak kerajaan sebagai petugas
yang mewakili masyarat
untuk berkomunikasi dengan alam.

Di setiap gunung berapi di jawa memiliki juru kunci
bahkan ada yang lebih dari satu juru kunci.
Di wilayah kesultanan Yogyakarta
salah satu juru kunci gunung merapi
yang paling terkenal adalah Mbah Maridjan.

Ini adalah profesi unik yang ada di jawa.





Dalam negara republik indonesia juga ada petugas
yang fungsinya setara dengan juru kunci alam di masa lalu
yaitu diantaranya petugas pemantau gempa,
petugas pemantau cuaca,
petugas pemantau sungai, petugas penjaga hutan.

Mereka semua menguasai ilmu membaca tanda tanda alam
dengan bantuan media alat elektronik dan ilmu pengetahuan.

Bahkan fungsi ahli nujum atau
ahli perbintangan kerajaan di masa lalu
saat ini juga terdapat dalam negara modern yang
di sebut lembaga antariksa dan astronomi.

Bagi saya , mereka adalah para juru kunci alam modern.

Manusia sesungguhnya mampu
berkomunikasi dengan binatang,
bukti nyata adalah seorang pawang gajah
mampu berkomunikasi
dengan gajah asuhannya.


Manusia berbicara kepada benda benda
juga terjadi di jaman modern ini,
contohnya seorang pendekar silat
bekomunikasi dengan pedangnya yang
dianggap sebagai pembantu perpanjangan tangannya.





Seorang pembalap berbicara kepada mobilnya
bahkan memberi nama kepada mobilnya.

Seorang musisi berbicara dan
mencium gitar kesayangannya sebelum pentas.

Dan yang paling sering adalah
seseorang berbicara kepada binatang peliharaannya
seperti kucing dan anjing dan itu semua dianggap wajar.

Namun ketika orang modern melihat
seseorang tetua suku pedalaman berbicara
kepada sungai dianggap aneh.

Padahal bagi orang rimba melihat orang kota
berbicara dan tertawa atau marah marah sendiri
di sepanjang jalan dengan menempelkan telepon genggam
di telinganya juga pemandangan yang sangat aneh.

Dimasa lalu ada cerita
manusia yang bisa berbicara kepada bumi,
berbicara kepada matahari, berbicara kepada bintang bintang,
berbicara kepada angin, pohon dan binatang
bahkan berbicara kepada tuhan.

Di berbagai kebudayaan berbeda
orang orang itu ada yang disebut nenek moyang,
Raja, Guru, Nabi, Orang suci, shaman,
Pujangga, avatara, peramal, tetua suku dll.

Cerita itu bisa dipercaya atau tidak ,
itu dikembalikan kepada masing masing individu
dan kepercayaan yang dianutnya.






Bagi saya pribadi,
di kepulauan nusantara ini ada suku yang pantas
menjadi teladan bagi penduduk nusantara
karena sikap penghargaan mereka terhadap alam ,
mereka adalah suku dayak di pulau borneo.

Kepada merekalah jika anda ingin belajar
bahasa cinta tahap kedua
agar mampu berkomunikasi dengan alam.

Kemudian suku lain yang merupakan
penjaga alam yang setia adalah suku badui
di wilayah banten kidul. Mereka pantas menjadi teladan
bagi orang orang di nusantara karena
kearifan hidup mereka dalam memperlakukan alam.

Kita beruntung hidup di kepulauan nusantara
yang sampai dengan saat ini memiliki
para pecinta spiritual yang tersebar
dari pulau nias sampai pulau ambon.
Dari pulau bali sampai pulau ternate.

salam,
edy pekalongan

Tidak ada komentar: