Sabtu, 12 Mei 2012

Puisi : Banteng Liar


kawanan banteng jawa

sebuah puisi yang membuat aliran daya kreativitasku terus mengalir adalah mewujudkan impian sejak tahun 2003. dimana suatu saat ada sebuah buku yang aku tulis dan ada orang lain yang membacanya. saat itu aku tidak tahu akan menulis apa. tapi aku percaya dimasa itu suatu saat aku akan menulis buku buku yang isinya bisa membahagiakan orang yang membacanya.

saat itu aku membaca novel karya penulis rusia, aku membaca puisi WS. Rendra dalam sebuah pentas perlombaan puisi. aku berlatih membaca puisi 50 kali latihan , untuk sebuah pentas pembacaan puisi. energi besar itulah yang membuat idelisme ku tetap terjaga. ada suatu masa keyakinan tersebut menjadi memudar dan seakan impian kita akan lenyap seperti kabut yang di telan panasnya sinar mentari.

sulitnya hidup untuk mencari makan kadang membuat cita cita idealis menulis buku menjadi lenyap. apalagi mau bergaya menjadi penyair. walopun dulu saat usia 19 tahun, aku ingin mencantumkan dalam KTP ku ,pada kolom pekerjaan adalah PENYAIR. mungkin kalian semua akan tertawa, tapi aku ingin mencantumkan dikartu namaku , dibawah namaku sebuah posisi yang menggambarkan diriku yaitu PENYAIR. hanya saja ini bukan era romantisme. semua orang mau menjadi Eksekutive muda yang suskes menjadi CEO sebelum usia 40 tahun.

namun apa jadinya masyarakat kita tanpa penyair. jika di dalam massyarakat sudah tidak ada lagi yang menulis syair ,membaca syair . dan syair lepas dari kehidupan masyarakat kita. yang terjadi adalah hati manusia menjadi beku , kering dan tumpul. orang yang mencintai puisi hatinya tidak akan menjadi kejam, karena puisi mengajarkan kejujuran, kreativitas, keindahan yang harus disampaikan dalam ruang yang terbatas.

puisi menyampaikan makna inti sari. tidak perlu bertele tele langsung menuju pokok persoalan tapi tidak kehilangan keindahan dalam kata. dan ketika di ucapkan dengan tepat rangkaian suara itu akan menembus telinga  pendengarnya langsung meresap ke dalam hatinya dan menggetarkannya seperti suara bel pintu yang di tekan. aku persembahkan sebuah puisi untukmu :


# banteng liar

banteng liar mengelana bersama kawanannya
bebas merumput disavana satu
lalu berpindah kelain savana
kawin sesuka
bertarung demi hak
kadang mati terluka

aku tak mau seperti kerbau
siang membajak sawah
pulang di kandang
makan di jatah tuannya

aku menjadi penulis
karena aku banteng liar
februari 2003



Tidak ada komentar: