Rabu, 11 Agustus 2010

Penyakit dan Kebijaksanaan

catatan.
hari selasa, 10 agustus 2010

sekitar jam 9 pagi
ada seorang wanita bertamu,
usianya kira kira 35 tahun.
dia terakhir berkunjung ke rumah,
kira kira seminggu yang lalu.



dan menanyakan ,
apakah penyakit yang dideritanya yaitu
batu empedu sudah sembuh ?

dia rutin seminggu sekali
datang ke rumah saya
kira kira sejak 2 bulan yang lalu.
dan di awal pertemuan mengatakan
bahwa menurut pemeriksaan dokter
dia mengidap batu empedu.


lalu meminta bantuan saya .
saya membantu dia
dengan terapi prana dan minum air mineral .

pagi ini dia menyampaikan,
bahwa kemaren dia melakukan
pemeriksaan di klinik sesuai saran saya ,
untuk mengetahui
bagaimana perkembangan penyakitnya.

dia menuturkan setelah di USG ,
batu empedunya sudah tidak ada alias hilang.
di gembira atas keadaan itu
karena tidak harus operasi yang biayanya mahal.



itulah alasan dia bertamu ke rumah
untuk mengucapkan terima kasih ,
dengan membawa gula, teh dan sarimi

saya terima dan saya katakan,
" syukurlah kalo begitu.
artinya keinginanmu untuk sembuh
telah di restui oleh yang maha kuasa "

setelah itu dia mohon diri.

saya minta kepada ibu saya,
bingkisan yang di beri oleh tamu tadi
untuk diserahkan kepada orang lain.


**

jam 10 pagi.
saya melayat ke rumah teman yang meninggal dunia,
setahu saya dia kerja di luar kota dan sehat.

ternyata semalam meninggal dunia
karena sakit timor otak yang parah.




saya datangi rumahnya,
bertemu keluarganya,
berdoa sebentar di depan jenasahnya.
dan melihat muka almarhum
untuk yang terakhir kalinya.

kakak almarhum menuturkan
jalan cerita hari hari terakhir almarhum sebelum wafat.
saya dengarkan dengan seksama.

kemudian saya pamit pulang.

hari itu ,
saya belajar bahwa penyakit
adalah tantangan kehidupan,
kadang kadang berhasil di taklukkan,
kadang kadang membawa kematian raga seseorang.

menjelang subuh sebelum pagi hari selasa ini ,
saya membaca koran bahwa




bapak sutarjo suryo guritno ,
seorang politisi nasionalis

meninggal dunia dan
hari minggu telah di makamkan
di taman makam pahlawan
kusuma negara - jogja.

kematian setiap hari ada.
kelahiran setiap hari ada.

kematian dan kelahiran adalah
sepasang kejadian yang memberi banyak pelajaran
bagi manusia yang mau merenung.

siapa yang lahir sudah pasti
akan meninggal dunia.
itu pasti.

karena saya masih hidup di dunia,
maka saya menulis kisah ini.

dan terus melanjutkan peran saya di dunia saat ini
yaitu kadang menjadi pelayan toko batik,

kadang memberi motivasi kepada orang yang sakit,
kadang menulis di blog,

lebih sering menjadi " illegal consultant "
bagi orang yang bertamu ke rumah,

karena tanpa gelar dan sertifikat,
kok ya berani memberi konseling.
:-)



setelah membaca tulisan
Rene Suhardono dalam bukunya
" your job is not your career "

dapat saya simpulkan
pekerjaan saya berubah ubah
tapi saya menjalani carieer saya
sesuai panggilan hidup
dan saya bahagia...



bahagia bukan karena uangnya,
tapi karena melakukan apa yang saya suka

sesuai filosofi hidup yang saya anut.
yaitu saya mengikuti
jalan kebaikan, keindahan dan kedamaian.


gara gara menulis ini,
saya jadi ingat seorang remaja putri
seminggu sebelumnya.
yang sakit tifus selama 2 bulan.
dan belum sembuh .
karena tidak mau makan obat dan tidak mau di suntik.

dia tergolong dari ekonomi miskin.
ketika saya berkunjung ke rumahnya
sekitar jam setengah sepuluh malam.




saya masuk rumah,
tidak ada kursi dan meja tamu.
semua duduk di lantai tegel bukan keramik.
yang sakit itu hanya berbaring di lantai
beralaskan tikar dan kasur tipis.
berselimutkan kain batik yang sudah lusuh.

ayah remaja putri itu,
takut kalo malam ini, anaknya semakin parah
dan dia tidak mampu membayar rumah sakit.

ketakutan terbesar sang ayah yang saya baca
adalah anaknya meninggal malam itu.

setelah saya sapa lalu saya sentuh dahinya dengan
telapak tangan ,kemudian untuk beberapa saat
saya berada dalam keheningan.

setelah selesai..


kepada remaja putri
yang sekolah malam di kejar paket B - kelas 3 .
dengan halus dan tegas
saya katakan :

" kamu itu masih muda,
yang semangat.
langkahmu masih panjang...
jangan menyerah..
jangan mau kalah sama penyakit "


setelah itu ,saya pamit.
dan mereka mau memberi saya amplop.

saya katakan :

"tidak usah , untuk beli makanan yang sakit saja.
terima kasih. "


malam itu, perjalanan pulang kerumah
naik motor yang sejak 5 tahun lalu belum ganti.
semakin terasa melegakan dan bahagia.

saya merenung
" jaman sudah merdeka,
nasib orang miskin tetap saja susah "

saya bersyukur atas kehidupan saya.
di bandingkan nasib remaja putri
yang baru saja saya temui.





kalau melihat keatas terus.. tidak ada puasnya.
sesekali kita harus melihat
dan menyentuh orang miskin langsung.

yang saya maksud
bukanlah memberi uang
lewat tarnsfer rekening amal di TV swasta.

tapi datang ke rumah mereka yang miskin ,
duduk dan dengarkan keluhan mereka.
dan bantulah dengan tulus...

cobalah..
maka kita akan merasa beruntung
dan semakin bijaksana.

sekian, terima kasih.

salam,
edy pekalongan

Tidak ada komentar: