Senin, 11 Agustus 2014

# riwayat pekalongan




amit amit ngaliman salam.
# riwayat pekalongan
*
di jawa  ada kata " tepo sliro " dan di bahasa indonesia   ada kata " tenggang rasa ". maka orang-2 lulusan universitas yang  kampanye mengenalkan  tentang  " toleransi & anti rasis "  saya anggap menghina budaya jawa.
*
*
contoh kecil di pekalongan,  jawa  tengah. rumah saya. ada kampung pecinan ( komunitas sodagar dari tiongkok - ) , ada kampung arab ( komunitas sodagar dari arabia ) , ada pesindon ( kampung sodagar dari  sindu / india ) disana masih tersisa makam empu keris, setelah masuknya pedagang kulit putih, ada benteng, gereja.  semua wilayah itu dekat dengan pasar utama di pinggir sungai  yang dekat dengan tempat kapal kapal dulunya bersandar di daerah bugisan ( kampung pelaut & sodagar dari  bugis ). sedangkan sodagar jawa dulunya bertempat di podo sugih.
*
*
itulah masa ketika belum ada pesawat terbang, belum ada statiun kereta api , orang masih memakai kapal layar , jukung , kereta kuda, jalan kaki sebagai transportasi. masa sebelum perang diponegoro ( 1825 ) , masa sebelum batavia mengatur monopoli perdagangan. masa sebelum bangunan kraton di pekalongan sebagai pusat pemerintahan ala jawa runtuh. lalu pusat pemerintahan berganti ala Tuan residen sebagai pembantu gubenur jendral di batavia. dan mulai berdiri rumah-2 bagus ala eropa yang menghadap ke sungai dekat pasar.
*
*
dimasa itu masih banyak orang jawa yang bisa berkomunikasi dengan bahasa arab ,persia,  sindi , mandarin, melayu . selain bahasa kawi dan sansekerta. buktinya di awal abad ke 20 ( 1900 ) masih ada sarjana jawa yang menguasai lebih dari 10 bahasa asing, istilahnya bahasa orang sabrang ,  karena mereka harus menyebrang ( sabrang ) laut agar sampe di jawa. tujuan mereka yang utama adalah untuk berdagang.
*
*
anehnya setelah abad ke 20,  menurut pakar sejarah lulusan universitas dinyatakan mayoritas orang jawa adalah buta huruf karena mayoritas tidak sekolah.  walopun buktinya dua ratus tahun sebelumnya saat orang kulit putih baru berdagang menginjak kaki, kami sudah punya tata administrasi yang di tulis dengan aksara jawa,  sudah ada tata kota ala jawa, kampung para bangsawan, kampung abdi dalem, bandar kapal untuk perdagangan barang antar negara.  pasar utama. yang terhubung dengan transportasi sungai . kampung orang-2 jawa, yang lengkap dengan sawah dan irigasi. juga produsen kain batik. tambak ikan bandeng, ada bangunan mesjid yang arsitektur jawa. 
*
*
di jaman itu tidak ada universitas, karena pengetahuan di wariskan oleh masyarakat jawa antar generasi.  semenjak tata kehidupan orang jawa di rusak oleh orang kulit putih, di hapus jejak pengetahuan kuno antar generasi, lalu setelah bodoh, disuruh belajar tata cara hidup ala orang eropa. bahkan merdeka karena berperang.
*
*
di tata kota eropa abad ke 15, entah di inggris ataupun perancis, ataupun spanyol dan portugis. apa ada kampung sodagar arabia, kampung sodagar cina, kampung sodarar india. kampung sodagar melayu. tapi kalo budak atau pelayan dari orang asia & orang afrika mereka punya. artinya kerajaan di eropa sendiri belum belajar tentang persamaan hak. mereka mengobarkan perang untuk menguasai bandar perdagangan, memonopoli jalur perdagangan. dengan perang untuk menguasai wilayah orang lain. artinya kerajaan di eropa memperkaya diri dengan menjadi perampok kekayaan bangsa lain.
*
*
setelah kaya dan puas menjajah selama ratusan tahun, lalu puas membangun kota-2 indah di eropa, puas menikmati kesenangan. dan akhirnya hancur karena perang dunia pertama dan perang dunia ke dua. barulah para terpelajar dari eropa menyuarakan hak bangsa bangsa di asia untuk merdeka. lalu persekolahan ala eropa di bangun di jawa. sampe sekarang, kiblat ilmu kita ke eropa dan amerika. seakan akan kita ini orang jawa adalah bangsa yang primitif. indonesia memakai aksara latin , tapi aksara jawa mulai mendekati punah di jawa. sejarah jawa menjadi buram. bahkan buku sejarah jawa paling terkenal adalah buatan orang inggris , yaitu History of Java karya Tuan Rafles.
*
*
Tuan Rafles memerintah di jawa sebagai wakil gubenur jendral British India  di Calcuta. hanya 5 tahun , mungkin lebih sedikit. ia  harus memimpin perang, harus mengelola administrasi, di jaman yang belum ada telepon dan sarana jalan & transportasi mesin. saya tidak percaya dia punya waktu keliling jawa mengumpulkan manuskrip kuno dan buku babad. ia pemimpin dari penjajah bukan ilmuan. menurut saya Tuan Rafles hanya Plagiat Sejarah jawa, mungkin juga merubahnya. karena menurut catatan di Jawa. Tuan Rafles menyerang Kraton Jogja dengan meriam dan pasukan di jaman Sultan Hamengku buwono ke 2. lalu menjarah kas kraton yang isi nya , mata uang emas dan intan berlian yang nilainya setara Satu Juta  Gulden / mata uang emas eropa, hasil perdagangan dan pertanian yang dikumpulkan kerajaan selama lebih dari sepuluh tahun. juga merampok ribuan kitab dan lontar di gedong perpustakaan kraton. menurut saya darisana dia dan timnya kemudian hari menyusun history of Java. mungkin merubahnya. bahkan menetapkan pengganti HB ke 2. yaitu HB ke 3.
*
*
apakah dalam History of Java, Tuan Rafles menulis , bahwa dia Merampok koin emas Kraton dan membawa lari ribuan kitab kuno di gedong kraton ke Inggris ?? . dia juga membawa prasasti milik Raja Airlangga di Jawa  dihadiahkan ke pemimpinnya di Calcutta - india. makanya aneh, ada Prasasti Raja Erlangga di india. hampir semua artefak yang bisa di angkut oleh Inggris , Netherland, Prancis , semuanya diangkut di kapalkan ke luar negeri.  sampe saat ini ribuan kitab dan lontar , juga prasasti batu,  sitaan Tuan Rafles masih disimpan kerajaan Britania. tidak di kembalikan. .karena kalo di kembalikan, akan terbongkar kebohongan yang ditutupi.
*
*
salah satu artefak yang selamat adalah patung budhha jaman singosari, yang sekarang menjadi patung " Joko Dholog " di surabaya. mitosnya patung itu kalo diangkut di kapal , maka kapal tidak bisa jalan karena bobotnya menjadi berat. maka di tinggal di surabaya di taruh di gedung kolonial  / gedung gubenur di Surabaya. setelah indonesia merdeka , patung itu di pindah di Joko dolog. jadi bukan patung era singosari tiba tiba nongol di surabaya. begitupula prasati milik Raja Erlangga di Calcutta. Hampir dipastikan nama-2 lokais kerajaan kuno di ubah oleh mereka para ahli sejarah jawa, kaum kulit putih intelektual yang menjadi abdi pemerintahan kolonial. dan anehnya para sejarawan lulusan Universitas seringkali hanya ikut literatur penjajah , atau cara pandang penjajah melihat sejarah jawa. lihat bukti di Candi Borobudur, bentuk stupa puncak yang asli tidak di kembalikan seperti semula, yang ada rongga dan antenanya.  bahkan para tim pemugar menutupi banyak relief di bagian bawah candi. dan tidak mau membuka bagian bawah borobudur. atau mengetes dengan alat canggih untuk melihat bagian bawah tanah borobudur atau lapisan dalam batuan candi.
*
*
saat ini orang jawa di ajari demokrasi lewat pemilu presiden , seakan akan kita ini bangsa yang umur peradabannya rendah. tidak punya mekanisme untuk memilih calon pemimpin di masa lalu. semenjak era jawa dikuasai Bangsa kulit putih yang kerjasama dengan pemimpin pribumi yang pro penjajah. maka jawa selalu punya pemimpin yang sesuai dengan selera kompeni / pedagang yang menguasai pasar di jawa. situasi saat ini tidak berbeda.
*
*
bahkan tata kota pekalongan menggambarkan proses penguasaan orang sabrang laut yang dulunya numpang berdagang di pekalongan. sekarang menjadi raja. dan orang jawa pekalongan menjadi kuli. rumah rumah orang jawa berada di belakang rumah-2 orang china , dibelakang ruko dan kantor. kampung orang jawa di bentengi oleh toko. itu melambangkan tata kehidupan orang jawa sudah rusak, semua tempat adalah pasar. kenapa hal ini bisa terjadi ? karena orang jawa lupa sejarahnya. dulu orang jawa pekalongan punya pemimpin, punya keraton, punya pasukan prajurit jawa, keraton punya lumbung padi ( sawah ), punya orang-2 ahli pemerintahan , ahli perangm ahli stategi bahkan bendahara yang mengatur perekonomian kota pekalongan. uang hasil perdagangan di pakai kraton untuk membangun kota. setiap desa punya aset sawah hak desa, tambak.  jadi kraton di pekalongan dulu mandiri tidak perlu di subsidi oleh mataram ataupun batavia. sekarang pemerintah kota pekalongan minta di subsidi dana dari Jakarta / Batavia saat ini. rakyat di kelurahan tidak lagi punya " banda desa " / harta & aset ekonomi milik desa - milih rakyat desa. untuk cadangan pangan dan pembangunan.  rakyat tidak lagi di subsidi beras, harga menganut pasar. ini lebih buruk dari jaman kerajaan di jawa.
*
*
saat ini saya sedang menelusuri mengamati dari nama-2 tempat di area kota pekalongan , aliran sungai, aliran irigasi lama,  untuk mengira ngira letak keraton lama , alun alun utara dan selatan. taman sari , juga jalur perahu dari sungai di daerah atas sampe muara. saya paham ada tatanan perubahan dari hindu budha ke islam. pasti dirubah tatanan masyarakatnya. lalu datang lagi masa kolonial. dirubah lagi tatanan masyarakatnya. lalu masuk era abad ke 20 dirubah lagi. di era kemerdekaan nama-2 tempat berubah. di masa reformasi  ada perubahan sangat drastis.  nama tempat seperti " Umbul "  di yosogaten, hilang. nama tempat " jagalan " , " Bronto-an " sudah hilang. di kampung saya sapuro . nama " blumbang kambang " sudah hilang. nama daerah " kwi jan " , " sorogenen " , " banjar sari "." bremi " " gambiran". " mbaro " . " pragak " . " bendingsari " . kecuali Ponolawen.
*
*
Kisah Legenda  tentang Joko Bahu utusan mataram mengalahkan Dewi Lanjar , saya baca sebagai  mataram yang merebut daerah merdeka , yaitu kraton milik penguasa asli yaitu Dewi Lanjar. ini bukti di wilayah pekalongan kuno adalah hindu , karena Raja memakai gelar Dewi. sedangkan : Lanjar adalah tempat bersandar hidup berupa tiang bambu untuk membantu tamanan kacang panjang atau anggur untuk tumbuh dan berbuah. jadi Dewi Lanjar artinya Raja wanita kerajaan hindu , tempat bersandar hidup rakyat.
*
*
sekarang ini, ibaratnya orang jawa itu semut tapi di program jadi kerbau atau sapi yang mengeluarkan susu. atau ibaratnya orang jawa itu ayam tapi di doktrin harus bisa terbang seperti elang.  orang jawa tidak dibiarkan menjadi jawa. dari sisi ekonomi, tata pemerintahan, pola pikir bahkan sampe tata kelola batin / spiritual . orang jawa mayoritas sudah tidak kenal arti menjadi orang jawa seperti para leluhurnya yang hidup sebelum bangsa kulit putih merusak tatanan di jawa.
*
*
tidak apa apa. saya percaya kala bendu / jaman kesengsaraan seperti yang di tulis di jaman eyang ronggawarsitha akan berakhir. beliau sudah merangkumkan ilmu leluhur, bekerja mendokumentasikan sebagaian saripati ilmu- kuno. sekarang ilmu jaman eyang ronggawarsita saja sudah punah, apalagi ilmu jaman mataram dan majapait. tidak apa apa. saya tidak dendam. tidak benci. tapi saya akan berusaha mengumpulkan kembali pengetahuan-2 kuno tentang apa yang masih bisa di baca, untuk bekal hidup.
*
*
semoga ada manfaatnya.
salam,
wuddha paing
( nama baru kepenulisan saya )

Tidak ada komentar: